ANTISIPASI

Dini hari di Gemol, sepi dan tanpa desah. Hanya ada suara napas yang mempertahankan nyawa agar tak buru-buru pergi dari tubuh manusia yang ringkih, dan sementara yang lain terlelap, saya masih terjaga, mendengarkan instrumen musik pengantar tidur yang semakin berjarak karena saya memilih untuk tidak tidak tidur kali ini agar ada cukup waktu untuk mengantisipasi kemungkinan jadi angkuh.

Sudah sejak lama. Saya berkali-kali dibuat kecewa, oleh setiap orang yang membanggakan pencapaian saya dan sebaliknya menjadi terlalu resah dengan kegagalan saya. Semuanya bermula ketika saya masih kanak-kanak yang tidak banyak tahu, berlari tanpa panduan yang jelas. Mengejar kupu-kupu, memanjat pohon asam di pinggir desa, dan mandi dari genangan air yang terjebak di cekungan batu setelah hujan reda. Saya menjelajahi dunia tanpa antisipasi kemungkinan jadi penjahat. Namun, belakangan saya berhadapan dengan kenyataan bahwa setiap penjelajahan yang tidak direstui adalah kejahatan dan akibatnya adalah bentakan atau pecutan ranting.

Hal itu yang terjadi pada kebanyakan kanak-kanak di desa yang orang tuanya menghabiskan banyak waktu di ladang bawang dan di tempat minum sopi. Kanak-kanak adalah manusia kelas dua yang tak punya harga diri sehingga ia boleh dibentak di tempat umum, juga tak punya acuan moral sehingga bisa dikoreksi kapan saja jika ada yang tidak senang dengan perilakunya. Sebagai kanak-kanak, saya tidak pernah belajar bernalar dari orang dewasa, sebaliknya saya belajar menjadi patuh, tidak hanya pada instruksi, tetapi juga pada emosi orang dewasa. Jika emosi seorang dewasa sedang tidak stabil, maka sangat mungkin seorang kanak-kanak akan menjadi korban. 

Kanak-kanak tidak dianggap sebagai manusia hingga dirinya bisa berkebun dan memasak. Di sekolah mereka diklasifikasikan menjadi dua, yaitu siswa yang pintar dan siswa yang bodoh. Hanya itu. Siswa yang pintar dapat dibuktikan dengan peringkat satu, dua, tiga, dan empat di lembaran laporan pendidikan, menjadi kebanggaan orang tua yang percaya bahwa anak yang pintar lahir dari orang tua yang juga pintar, dan anak yang bodoh terlahir dari orang tua yang juga bodoh. Hal ini membuat kanak-kanak di desaku jerjebak dalam angka, dan diperburuk dengan pandangan guru-guru desa yang mengatakan bahwa lebih baik seorang siswa yang nakal tapi pintar daripada siswa yang bodoh dan nakal. Sementara itu, siswa yang pintar dan baik sepertinya tak pernah ada.

Saya masih bertanya-tanya hingga tulisan ini dibuat. Bagaimana orang dewasa di desa saya dibesarkan? Kebanyakan dari mereka terlalu peduli pada validasi yang sering dibebankan pada pundak kanak-kanak yang tak pernah minta dilahirkan. Dan saya terlibat. Saya menyadari bahwa orang tua saya senang dengan pencapaian saya, dan untuk kegagalan saya hadiahnya adalah rotan. Saya masih ingat, hari itu tidak ada dialog dua arah, hanya ada seorang dewasa yang marah karena prestasi saya menurun, dan sebatang ranting membekas di betis saya.

_

Rafa'El Loiss

Komentar

Postingan Populer