Konflik, Sumbu Pendek, Jaga Jarak

Kemungkinan berkonflik dengan orang lain dalam lingkup pergaulan selalu tidak dapat dihindari. Konflik yang terjadi bisa bermacam-macam pemicunya. Ada konflik yang terjadi karena hal sepele maupun serius. Pemicu konflik seringkali berbanding lurus dengan konfliknya. Jika pemicunya adalah hal yang serius, maka konfliknya akan cukup besar, begitu juga sebaliknya, konflik yang muncul akan lebih kecil jika pemicunya adalah hal sepele.

Terlepas dari besar kecilnya pemicu sebuah konflik, kita seringkali menemukan bahwa sebuah konflik bisa terjadi karena kelalaian salah satu pihak untuk bertindak bijaksana. Entah kenapa, ada pihak tertentu yang arogan karena merasa benar lantas secara berlebihan menyerang pihak lain.

Dalam pengalaman pribadi penulis, ada sebuah peristiwa ketika penulis tiba-tiba dihubungi oleh rekan kerja senior melalui pesan WhatsApp. Isi pesannya sangat mengejutkan dan membuat bingung. Inti dari isi pesan itu adalah mengonfirmasi bahwa yang bersangkutan sedang sakit dan penulis bisa membuktikan sendiri dengan cara datang ke kost yang bersangkutan dan mewawancarai tetangga kost-nya jika penulis tidak percaya bahwa yang bersangkutan sedang sakit

Penulis yang kebingungan awalnya hanya tertawa karena merasa bahwa yang bersangkutan mungkin sedang bercanda. Namun kemudian semua menjadi jelas ketika penulis mendapat konfirmasi dari rekan senior yang lain bahwa mereka mencurigai penulis telah menyampaiakn informasi yang tidak benar tentang mereka kepada atasan.

Jadi, dari pengalaman pribadi yang penulis sampaikan dalam artikel ini, kita bisa melihat sebuah gambaran sikap yang tidak bijaksana dari rekan kerja penulis yang langsung memberikan pernyataan final seolah-olah untuk menjawab keragu-raguan (yang sebenarnya tidak pernah ada) penulis atas kondisinya yang sedang sakit. Hal ini yang kemudian membuat penulis terkejut dan bertanya-tanya, bahkan penulis mencoba melakukan panggilan telepon sebanyak tiga kali selain mengirimkan pesan WhatsApp untuk menjawab kebingungan dari penulis, tetapi yang bersangkutan tidak merespon sama sekali, entah karena apa.

Sikap gegabah dan tidak berpikir panjang seperti yang terjadi dalam pengalaman penulis seringkali menjadi pemicu konflik. Kita sering mendengar istilah sumbu pendek, dan secara otomatis akan menghubungkannya dengan orang-orang tidak berpendidikan, orang-orang yang hanya memikirkan urusan perut atau memikirkan diri sendiri. Tetapi, berdasarkan pengalaman penulis, istilah sumbu pendek ternyata masih bisa dihubungkan dengan orang-orang yang telah mengenyam bangku pendidikan.

Orang-orang yang diistilahkan dengan sumbu pendek adalah orang-orang yang begitu cepat termakan hasutan atau hoax maupun situasi, mereka kurang berpikir panjang dalam menyikapi situasi mupun informasi, lantas melangkahi anak tangga klarifikasi atau analisa mendalam terhadap situasi maupun informasi yang diterima. Sikap seperti ini mengancam kerukunan dalam pergaulan antar manusia karena berpotensi memicu konflik berkepanjangan.

Penulis secara pribadi, mengambil sebuah langah yang mungkin kurang bijaksana, yaitu dengan menjaga jarak dari orang-orang sumbu pendek. Setidaknya ada dua alasan pembenar bagi sikap yang dipilih oleh penulis, yaitu: yang pertama, dengan memberi jarak, kita bisa terhindar dari kemungkinan masalah yang ditimbulkan oleh orang-orang seperti ini, dan yang ke-dua, penulis meminjam sebuah pesan moral dari salah satu tokoh sentral dalam ajaran Katolik dan Protestan yaitu Santo atau Rasul Paulus, beliau pernah mengatakan bahwa pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan yang baik, dengan mengambil jarak dari orang-orang seperti ini, setidaknya kita  kita bisa terhindar dari gaya berpikir sumbu pendek.

Rekan-rekan pembaca tentu saja memiliki cara yang berbeda-beda dalam menyikapi situasi dan orang tertentu. Bagaimana cara rekan-rekan sekalian menyikapi orang-orang sumbu pendek dengan sejuta potensi konflik yang mereka bawa? Silahkan tuliskan dalam kolom komentar.

Tuhan memberkati.

 

Sahabatmu KangGoeroe

Komentar

Postingan Populer