GOLIAT & DAUD

Kisah tentang Goliat dan Daud populer di kalangan anak sekolah minggu sebagai sebuah kisah nyata yang menyajikan ketegangan antara yang baik dan yang jahat. Goliat seorang Filistin yang terverifikasi sebagai orang jahat dalam Alkitab karena dia bagian dari bangsa yang tidak mengenal Allah Israel serta melakukan ekspansi ke wilayah bangsa lain, perilaku yang ditentang habis-habisan oleh dunia modern sekaligus asal-asalan ketika terjadi invasi Rusia ke Ukraina dan Israel ke Palestina.

Daud sejak awal adalah pihak yang beruntung karena dia berada di pihak yang oleh penulis Alkitab digambarkan sebagai yang baik. Baik karena penulis Alkitab menuliskannya seperti itu. Baik bukan karena pada akhirnya menang. Baik tak harus menang dan menang bukan berarti baik. Baik dan menang adalah dua hal yang berbeda yang kadang saling terhubung dan kadang terpisah.

Ketegangan antara yang jahat dan yang baik diwakili oleh Goliat dan Daud. Dua tokoh yang sama-sama punya jiwa nasionalis sekaligus patriot, nilai-nilai yang diagungkan di dunia modern dengan bayang-bayang perang dunia ke-3. Ketegangan antara yang jahat dan yang baik dalam kisah ini tidaklah sederhana, apalagi bila kita melakukan refleksi terhadap kedua tokoh yang mewakili jahat dan baik ini.

Saya meminjam argumen dari Alm. Dr. Totok Suyanto, pengajar mata kuliah Multikultur pada masa saya masih kuliah di Unesa, yang kurang lebih sebagai berikut “tidak ada seorangpun yang dapat memilih untuk lahir di tempat dan masyarakat tertentu”. Tentu saja argumen ini akan ditentang oleh Dr. Zakir Naik yang dalam forum tanya jawabnya mengatakan bahwa setiap orang telah memilih untuk lahir sebagai Islam dan bukan Islam jauh sebelum mereka dilahirkan dan dibuat lupa dengan pilihan mereka oleh Allah, juga bertabrakan dengan mitos dari jaman Plato yang mengatakan bahwa setiap orang telah membuat pilihan hidup mereka di dunia sebelum akhirnya meminum air sungai lupa dan lahir kembali di dunia untuk menjalani kehidupan yang mereka pilih sebelumnya entah sebagai yang jahat atau yang baik, entah sebagai bagian dari masyarakat yang beradab atau yang brutal.

Argumen Dr. Totok, Dr. Zakir, dan mitos jaman Plato inilah yang membuat ketegangan antara Goliat yang jahat dan Daud yang baik jadi rumit. Goliat mungkin telah memilih sebelumnya untuk lahir sebagai prajurit di sebuah bangsa yang disebut Filistin atau mungkin juga tidak, dia mungkin dipilih oleh Yang Maha Kuasa, atau opsi yang lebih sederhana adalah dia lahir begitu saja sebagai bagian dari kegiatan pro kreasi sepasang suami istri dari bangsa Filistin. Dia lahir tanpa memilih atau dipilih atau salah satunya tidak ada yang dapat memberikan jawaban final kecuali orang-orang naif semacam Zakir naik atau penganut ajaran Jhon Calvin yang mewakili sekian milyar penganut ajaran agama di dunia.

Katakanlah benar bahwa Goliat dan Daud memilih sebelum dilahirkan. Maka ada kemungkinan bahwa Goliat tidak mendapatkan gambaran jelas dan spesifik tentang resiko dari pilihannya. Dia memilih untuk menjadi bagian dari sebuah bangsa yang jahat dan kalah pada akhirnya. Tetapi seandainya Allah yang memilih bagi Goliat dan Daud, maka keduanya tidak layak dinilai sebagai jahat atau baik. Allah yang memilih bagi keduanya adalah yang satu-satunya yang layak dimintai pertanggungjawaban. Mengapa Allah tidak memilih bagi mereka untuk lahir dari satu bangsa yang sama dimana keduanya dapat menjalin hubungan persahabatan yang karib sebagaimana dikisahkan dalam kisah persahabatan antara Daud dengan Yonatan.

Terlepas dari persoalan memilih atau dipilih, yang tidak boleh diabaikan adalah keduanya cukup naisonalis dan patriotik terhadap kelompok masing-masing. Mereka sama-sama taat kepada sesembahan masing-masing. Dalam hal ini konflik antara Goliat  dan Daud menjadi sebuah konflik yang netral atau bahkan melampaui yang baik dan yang jahat, ketegangan antara keduanya lebih mencerminkan sikap yang luhur dari jiwa yang setia terhadap kelompok dan sesembahannya. Maka penulis Alkitab keliru dengan menggambarkan keduanya sebagai yang jahat di satu pihak dan yang baik lain pihak.

Jahat dan baik merupakan kategori yang belum final. Ia berbeda dari berbagai sudut pandang. Yang jahat bisa sekaligus adalah yang baik begitupun sebaliknya. Yang baik bisa tercermin dari kejahatan, begitupun sebaliknya. Kita tentu ingat, kisah penyaliban Yesus Kristus. Sebuah peristiwa yang diagungkan oleh umat Kristen. Sebuah transaksi terjadi di Tempat tengkorak pada waktu itu. Transaksi paling mengerikan sekaligus penuh kasih, menakutkan sekaligus membebaskan.

 

Rafa’El Loiss


Komentar

Postingan Populer