KETIDAKPASTIAN

Beberapa waktu lalu, sekitar pukul 22 malam, dalam pertemuan dengan seorang adik mahasiswa, sebut saja Yeni (bukan nama asli) asal Maluku Barat Daya ketika penulis mengembalikan sejumlah uang yang dipinjam darinya, kami tenggelam dalam pembicaraan tentang kondisi kesehatan yang membuatnya seringkali merasa berbeda dari kebanyakan orang, dan hal itu mengurangi rasa Percaya Dirinya ketika berinteraksi dengan orang lain.

Ini sebuah problem klasik dimana seseorang merasa berbeda dengan orang lain dan perasaan ini berpengaruh buruk bagi kepercayaan dirinya. Hampir setiap orang mengalami hal ini, terlepas dari apa yang menjadi faktor pemicunya. Ekonomi, kesehatan, hubungan dalam keluarga, warna kulit, dan masih banyak faktor lain yang tidak perlu disebutkan satu per satu dalam tulisan ini.

Diperhadapkan dengan perasaan berbeda dari yang lain ini, orang mungkin akan berpikir, seandainya dia bisa sama seperti orang lain. Seandainya dia adalah orang yang sehat, seandainya dia adalah orang yang punya banyak uang, seandainya warna kulitnya kuning, dan bukan hitam manis seperti warna kulit penulis. Andai-andai seperti ini muncul karena orang berpikir bahwa menjadi seperti apa yang dia andaikan bisa jadi adalah solusi yang baik. Seandainya dia begini dan begitu, tentu dia akan lebih mudah bergaul tanpa terganggu oleh rasa tidak percaya diri. Ini adalah hal yang sama, yang diajukan oleh Yeni.

Pembicaraan berlanjut tentang pandangan bahwa apa yang selalu terlihat baik, sempurna, dan indah dari luar, tidak bisa menjadi parameter untuk mengatakan bahwa seseorang akan punya kehidupan yang lebih baik, apalagi jika kita sampai ingin seperti orang tersebut. Penulis mencoba membawa Yeni untuk melihat realita yang ada di masyarakat dengan mengatakan bahwa ada banyak orang di luar sana yang sehat secara jasmani, tetapi rohaninya begitu kacau. Ada banyak Wanita cantik, glowing, singset di luar sana yang ternyata kurang cerdas karena malas belajar. Ada juga orang-orang berpenampilan sederhana ditambah dengan postur tubuh yang jauh dari kata ideal, tetapi mereka memiliki keunggulan pada sisi yang lain.

Sampai di sini, muncul sebuah pertanyaan besar yang penulis ajukan kepada Yeni. Apakah orang yang kondisinya tampak baik dan menjanjikan benar-benar adalah baik dan menjanjikan? Jawabannya adalah tidak. Tentu saja tidak. Kita tidak dapat memastikan seseorang akan baik-baik saja menjalani hidupnya hanya karena kulitnya glowing, atau karena dia punya banyak uang, atau karena dia memiliki warna kulit tertentu. Begitupun sebaliknya, orang dengan kondisi tampak buruk dan tidak menjanjikan sesuatu yang baik, seringkali memiliki hal baik yang tersembunyi dari pengamatan orang-orang kebanyakan.

Jadi, pembicaraan soal kesempurnaan atau kondisi ideal jiwa dan raga, akan selalu ada di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Raga yang tampak sempurna tidak berarti jiwanya juga sempurna, dimikian pula sebaliknya, jiwa yang sehat, kuat, tahan banting, tahan panas, yang tampak ideal seringkali tersembunyi di balik raga yang …. (silahkan diisi sendiri)

 

Sahabatmu Kanggoeroe

Komentar

Postingan Populer