Gembar-gembor kebaikan

Ramadhan di Indonesia jadi waktu penuh kebaikan bukan hanya untuk umat Islam. Hal ini dikarenakan adanya akulturasi budaya Islam dengan budaya nusantara yang memiliki kesamaan dalam beberapa hal berkaitan dengan kehidupan sosial dan sistem kepercayaan, seperti anjuran untuk bersedekah, ziarah dan mendoakan orang yang sudah meninggal, serta menjalin kebersamaan dengan keluarga dan sahabat.

Ramadhan di Surabaya kali ini kembali diwarnai dengan fenomena bersedekah di pinggir jalan. Kemunculan sekelompok orang di pinggir jalan raya dengan kardus indomie berisi nasi bungkus (takjil) yang dibagi-bagikan kepada para pengguna jalan raya menjelang maghrib sudah jadi pemandangan biasa. Kelompok orang yang bersedekah dari pinggir jalan ini berasal dari berbagai latar belakang masyarakat. Mulai dari kelompok arisan ibu-ibu sosialita, komunitas pencinta motor gede, hingga organisasi-organisasi mahasiswa dan pemuda.

Kehadiran para dermawan makanan di jalan raya ini terkadang begitu misterius karena hanya berbekal sekardus nasi sehingga jika beruntung kita hanya bisa menebak-nebak identitas mereka dengan membaca tulisan pada seragam yang mereka gunakan, namun ada juga yang datang dengan membawa spanduk bertuliskan pesan singkat (tema kegiatan) dan beberapa informasi lain tentang mereka, lantas proses bersedekah itu didokumentasikan dan dipublikasikan di media sosial.

Fenomena para dermawan berspanduk yang aktif menggembar-gemborkan perbuatan baik mereka di media sosial ini mengingatkan penulis pada sebuah peribahasa yang mengatakan  memberi dengan tangan kiri tidak perlu diketahui oleh tangan kanan”. Artinya adalah ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain dalam konteks sedekah, tidak perlu dibarengi dengan upaya untuk menunjukkannya kepada pihak lain yang tidak terlibat.

Yesus Kristus, seorang guru moral sekaligus yang dipercaya sebagai Tuhan dalam ajaran Kristen mengingatkan umatnya agar tidak menggembar-gemborkan jika memberi sedekah sebagaimana  dikutip oleh penulis dari Alkitab Perjanjian Baru:

6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” (Matius 6: 2 & 3)

Dalam Islam terdapat ajaran tentang bagaimana bersedekah sperti dalam kutipan berikut:

"In tubdu-adaqāti fa ni'immā hiy, wa in tukhfhā wa tu`thal-fuqarā`a fa huwa khairul lakum, wa yukaffiru 'angkum min sayyi`ātikum, wallāhu bimā ta'malna khabīr"

"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." _Referensi: https://tafsirweb.com/1037-surat-al-baqarah-ayat-271.html_

Merujuk pada data dari tafsirweb.com, menurut tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) memberi sedekah dengan sembunyi-sembunyi itu lebih baik daripada memperlihatkannya, karena lebih dekat kepada ikhlas. 

Mengacu pada kutipan dari Alkitab dan Alquran beserta tafsirannya yang penulis sajikan, tampaknya dua agama ini sama-sama menganjurkan para penganutnya untuk memilih tidak gembar-gembor ketika bersedekah sebagai satu sikap moral yang baik, namun tentu saja akan selalu ada keberatan terkait dengan potongan-potongan ajaran moral yang penulis sajikan baik dari sisi Kristen maupun Islam. Seorang Kristen bisa saja mengutip bagian lain dari Alkitab yang mengajarkan tentang panggilan orang Kristen untuk menjadi garam dan terang dunia sebagai pembenaran bahwa kebaikan seorang Kristen harus dilihat orang supaya Allah dimuliakan.

Seorang Islam bisa saja mengajukan keberatan dengan mengutip pada ayat dan tafsir yang sama dengan yang penulis kutip untuk menunjukkan bahwa tidak ada larangan untuk melakukan sedekah secara terang-terangan selama motivasinya adalah untuk memberikan teladan yang baik sehingga ditiru oleh orang lain dan terjadilah perlombaan berbuat baik (sebuah kondisi yang baik)

Penulis tidak bermaksud menggurui ataupun menunjukkan seolah-olah penulis adalah pribadi yang jauh lebih baik dari para dermawan yang suka menggembar-gemborkan kegiatan amal mereka di media sosial, penulis hanya mencoba menampilkan kontras antara ajaran tentang sedekah dalam agama dengan perilaku umat beragama dalam bersedekah.


Sahabatmu Kanggoeroe

Komentar

Postingan Populer