0690

“Suruh dia bangun!”

“Bajingan.” umpat si Carl

“Situasi macam begini, masih saja cari kambing hitam. Anjing.”

Carl lantas banting pintu dan melangkah pergi. Dia masih marah pada Rafa’El dan juga Just Less yang selama ini bertindak seenaknya. Bagaimana mungkin semua tugas yang harusnya diselesaikan tepat waktu bisa terabaikan bahkan tidak pernah selesai. Semua laporan manipulatif itu adalah buktinya. Kalau memang mereka tidak bermalas-malasan selama ini, tentu saja ada buktinya, tapi apa yang mereka hasilkan setelah setahun diberi kesempatan.

“Hancur semuanya. Gila. Anjing. Anjing” umpatannya semakin menjadi-jadi. Carl rupanya semakin kecewa mengingat betapa banyak waktu yang disia-siakan begitu saja oleh dua orang temannya itu. Langkahnya semakin cepat menuju gedung bekas pabrik senjata yang diledakkan oleh ISIS lima tahun lalu.

“Halo”

“Halo Carl” terdengar jawaban dari seberang

“Kode 0690” kata Carl lantas memutuskan sambungan telepon.

**** 

Sebatang Marlboro Filter Black bertengger di antara jari telunjuk dan ibu jari laki-laki berkacamata hitam itu, dengan keras dihembuskannya asap yang segera mengepul keluar lewat mulutnya lantas menyerahkan rokok yang masih menyala itu kepada Rafa’El. Di depannya berdiri Wira Anggara, sementara disamping kanan kirinya berdiri dua orang yang tak lain adalah Rafa’El dan Just Less. Sebatang rokok dihisap oleh empat orang secara bergantian. Bagi orang lain, berbagi rokok menggambarkan solidaritas, tapi bagi mereka berempat, ini adalah misi yang disebut misi 0690. Rokok yang dihisap dalam sekali putaran itu segera dijatuhkan oleh Just Less ke lantai lalu dengan perlahan mengambil pistol yang sejak tadi bertengger di ikat pinggangnya. Hal yang sama dilakukan oleh Rafa’El dan segera diikuti oleh Wira Anggara dan Carl Loss.

Terdengar empat letusan pistol dalam waktu yang hampir bersamaan dari dalam gedung bekas pabrik senjata. Dua butir peluru melesat ke atas menembus atap gedung, sementara dua butir lainnya masing-masing menembus kepala Rafa’El dan Just Less. Dua sosok roboh ke lantai beton dalam keadaan sudah tak bernyawa, pertanda selesainya misi 0690.

Suara ledakan menggelegar diikuti munculnya kobaran api dari dalam gedung bekas pabrik senjata itu. Dua sosok manusia berjalan membelakangi kobaran api. Langkah mereka tenang namun cepat. Misi berikutnya sudah menanti untuk dilaksanakan.

PenTiGraf by Anggara

Komentar

Postingan Populer