Cahaya (sebuah bintang)
Aku adalah cahaya dari sebuah bintang. Aku melintasi jarak yang sangat jauh dan waktu yang sangat lama untuk tiba di bumi. Perjalanan ribuan tahun membawaku menjauh dari bintang yang kini mungkin telah sirna atau setidaknya telah dikuasai oleh partikel gelap. Begitulah bintang, ia memancarkan cahaya yang tampak gemerlap dari planet yang sangat jauh, tetapi sebenarnya ketika cahayanya baru saja terlihat ia mungkin telah lama tenggelam dalam kegelapan yang menakutkan.
Aku tiba di bumi dan terperangkap dalam pengamatan makhluk hidup bumi. Seorang astronom menangkapku dengan teleskop, memantulkanku pada retina matanya lalu bibirnya bergerak perlahan mengucapkan sebuah kata yang asing bagiku, namun aku kini bisa merasakan semacam lonjakan emosi yang muncul dari dalam dirinya. Ada semacam rasa kagum dan kecewa yang sama dalamnya. Mungkin kagum karena ia baru saja melihat cahaya tanpa bintangnya, sekaligus kecewa karena ia sendiri mulai menyadari bahwa di suatu tempat yang sangat jauh ada sebuah bintang yang telah lama dikuasai kegelapan, terjebak dalam dingin yang mematikan.
Paragraf ke-tiga ini adalah bagian terakhir dari kisahku yang sebagian besar kusimpan untuk diriku sendiri. Meski demikian, apa yang aku ceritakan selalu merupakan kebenaran yang tidak diada-adakan kecuali dalam sekali dua kali kesempatan aku mengira-ngira tentang bintangku dan perasaan si astromon.
Wira Anggara
Komentar
Posting Komentar