CELANA GOMBRANG

“Aaaduh. Celanaku mana ya? Kok bisa ndak ada itu loh”

Pemuda itu berulang kali memeriksa tumpukan pakaiannya yang tertata rapi dalam lemari kayu murahan berwarna coklat tua. Dia kelihatan mulai gugup dan sedikit terburu-buru. Salahnya sendiri tidak mempersiapkan pakaian kerja sejak semalam.

Profesi sebagai seorang pengajar menuntut Bucin untuk berpakaian rapi. Celana kain hitam, sepatu pantofel, dan kemeja merupakan tiga atribut penting bagi Bucin. Hal itu sudah disampaikan oleh kepala sekolah SMA Kalang Kabut sejak pertama kali interview kerja.

Maklum anak muda, usianya masih seumur jagung. Soal disiplin masih butuh banyak latihan. Merasa usahanya sia-sia, Bucin menuju ke tumpukan pakaian kotor di samping kamar mandi. Kardus dispenser yang penuh pakaian kotor itu diacak-acak, seluruh isinya dikeluarkan lantas diperiksa satu-satu.

“Nahhh”. Matanya tertuju pada sebuah celana kain berwarna hitam Bucin segera menarik celana hitam yang menyatu dengan setumpuk pakaian kotor di depannya, lantas dibolak-balik untuk memastikan kalau tidak ada kotor yang menempel. Hidungnya didekatkan pada kain kumal di tangannya lantas menghirup udara dengan hati-hati.

“Masih wangi” katanya perlahan

“Tapi agak gombrang” katanya sambil berjalan ke depan cermin besar yang menempel di dinding tembok berwarna hijau lumut.

Komentar

Postingan Populer