hampha

HAMPA. Sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi perasaanku sore ini. Tetes-tetes air hujan yang terus berjatuhan sejak siang tadi semakin mempercepat kelam. Dan tentu saja, malam datang lebih awal hari ini. Suasana basah dan dingin begitu mengganggu. Aku jadi berpikir, mungkin Tuhan sengaja mengguyur kotaku dengan air hujan agar semua orang tetap di rumah saja.

Tapi, bagiku hujan kali ini tidak dapat menahanku untuk berlama-lama di rumah. Sore ini sebelum maghrib tiba, aku harus pergi ke kost temanku. Di sana ada beberapa ekor kucing yang sudah sudah menunggu sejak tadi pagi untuk diberi makan. Untuk itu aku dibayar sepuluh ribu rupiah setiap harinya. Tapi ini bukan soal uang sepuluh ribu rupiah per hari yang kalau dikalikan dengan empat belas hari menjadi seratus empat puluih ribu rupiah.

Ini tentang kucing-kucing yang lapar dan haus. Dalam diriku sendiri mulai muncul semacam gejolak, antara tetap di rumah dan membiarkan kucing-kucing itu kelaparan, atau menerabas hujan dan menyelamatkan mereka dari rasa lapar dan haus. Aku mulai membayangkan suara mereka ramai mengeong kelaparan. Sementara di luar suara riuh air menghantam atap memunculkan sensasi rasa dingin yang mungkin imajinatif atau mungkin juga nyata. 

PenTiGraf by Anggara

Komentar

Postingan Populer