JUNE
“June”
“Tetap sadar June”
“Oh shit” aku berusaha menghentikan pendarahan dari luka yang menganga di pelipis perempuan itu. Benturan keras beberapa detik lalu menyisakan luka yang terus mengalirkan darah segar serta pecahan kaca dimana-mana.
Sorotan lampu mobil menerangi wajah penuh darah dari tubuh perempuan yang tergeletak tak berdaya di jalanan yang basah oleh hujan. Sorot matanya yang semakin meredup masih memancarkan kepanikan.
“Ini yang terakhir June. Kita jangan balapan lagi” teriakku mencoba mengatasi suara gaduh jalan raya.
“Ini yang terakhir” air mataku bercampur dengan air hujan yang enggan berhenti menjatuhkan dirinya pada bumi yang pasrah menerima.
“Roy dan June udah ndak ada Wil” Pesan singkat itu baru sempat kubaca setiba di sekolah. Sesaat dunia serasa berhenti, angin dingin awal desember enggan berhembus, segala sesuatu membisu, fenomena seakan membeku, disusul ratusan kunang-kunang berterbangan di depan mataku.
Seharusnya aku menolak untuk bertukar pasangan saat balapan semalam. Seharusnya June tetap duduk di belakangku, memelukku dengan tangan lembutnya sementara kami tenggelam bersama dalam kecepatan di bawah terpaan cahaya lampu jalanan.
Seharusnya aku tidak mempercayakan gadis itu untuk dibonceng oleh Roy. Seharusnya aku memilih untuk tetap membonceng June. Keputusanku semalam telah berakhir dengan kehilangan sahabat dan kekasihku.
Seharusnya aku tidak menjemputnya tadi malam. Membiarkannya tidur dan bermimpi semalaman.
#enambelasjam_kepergianmu
#JUNE_perempuandalampelukan
#ROY_TheBIGBROTHER
Komentar
Posting Komentar