terdampar

Perjalanan menuju Pulau Moa memakan waktu berhari-hari, melewati malam-malam panjang di laut lepas, menjauh dari daratan yang dipenuhi oleh manusia. Waktu terus berjalan membawa kami semakin jauh ke wilayah perairan yang masih asing bagiku dan Agus. Sejauh mata memandang hanya kegelapan dan langit penuh bintang.

Tidak ada yang dapat memastikan berapa lama perjalanan yang harus ditempuh, terakhir kali kami mendapatkan informasi dari nahkoda bahwa perjalanan mungkin akan lebih singkat jika tidak ada kendala. Kendala dalam perjalanan sedapat mungkin dihindari dengan persiapan yang matang, seperti jumlah bahan bakar yang memadai, kondisi mesin yang prima, serta kesehatan awak kapal.

Beberapa persiapan yang matang sangat penting bagi nahkoda dan awak kapal untuk menghadapi masalah di lautan seperti badai yang sering terjadi di wilayah perairan dekat kepulauan Alor, lebih tepatnya wilayah perairan Mulut Kumbang. Wilayah perairan Mulut Kumbang selalu menawarkan tantangan tersendiri bagi para pelaut. Salah satu jalur laut yang mau tidak mau harus dilewati meskipun taruhannya adalah adalah kehilangan kapal dan seluruh muatan.

Kami menempuh perjalanan sekitar empat puluh delapan jam untuk tiba di wilayah perairan NTT, lalu tiba di wilayah perairan Mulut Kumbang setelah dua puluh empat jam berikutnya. Terdengar informasi disiarkan lewat pengeras suara yang hampir dapat ditemukan di seluruh ruangan kapal, agar seluruh penumpang berada di dalam dek.

Tubuh kapal mulai terasa terombang-ambing. Semakin lama semakin keras, menggerakan benda-benda di sekitar. Bruaaakkk. Air menghantam jendela kaca diikuti suara hempasan keras kapal yang baru saja berhasil melewati hantaman ombak. Semua orang berpegangan pada terali ranjang besi yang menempel di dek penumpang.

Kira-kira satu jam lamanya kapal terus terombang-ambing di tengah malam yang gelap. Sesekali terdengar suara hempasan ombak menghantam sisi sebelah kiri dan kanan kapal, pertanda bahwa kapal yang kami tumpangi sedang terjebak di tengah pusaran arus yang tercipta oleh palung laut atau semacamnya. Agus mungkin dapat menjelaskan fenomena ini secara detail seandainya dia sedang duduk dengan tenang di warung kopi sambil menghisap sebatang rokok surya.

Bruakkk. Suara hempasan ombak kali ini jauh lebih keras. Mengejutkan seluruh penumpang. Disusul jerit kepanikan dari ibu-ibu yang segera menjadi pusat perhatian beberapa penumpang.

Bocor. Air mengalir deras melalui jendela yang rusak setiap kali ada hempasan gelombang. Kaca tebal yang menutupi jendela bulat berdiameter lima belas senti meter itu mengalami keretakan dan terlepas dari bingkai jendela ketika dihantam gelombang besar tadi.

Beberapa awak kapal berusaha mencapai jendela yang rusak dengan susah payah. Berusaha agara tidak kehilangan keseimbangan atau terpental. Bruaakkkk. Suara benturan keras disusul mati lampu. Suara teriakan terdengar dari berbagai arah. Benturan yang baru saja terjadi telah merusak mesin atau semacamnya. Tidak ada yang mencoba menjelaskan penyebabnya dalam situasi seperti ini.

Aku berpegangan pada terali ranjang penumpang sambil berharap listrik kembali normal sementara beberapa orang mencoba bertahan dengan lampu senter, salah satu hal penting yang kulupakan ketika melakukan pelayaran kali ini. Seandainya ibuku ada pada waktu itu, mungkin seluruh perlengkapan perkemahan akan disiapkan untukku. Ibuku memang begitu peduli pada semua kebutuhanku. Perempuan yang masih memandikanku hingga usiaku menginjak delapan tahun, hal memalukan yang membuatku diejek oleh saudara sepupuku. Meskipun tanpa mereka sadari sebenarnya mereka terlihat lebih seperti anak yatim piatu yang tidak pernah menikmati kasih sayang orang tua. Kotor, kumal, dan tidak ada yang peduli.

Hummmpphhh… aku tersentak dari lamunanku ketika sebuah benda besar seukuran bayi gajah menghantamku. Napasku tertahan di rongga dada. Rasanya tidak ada ruang yang cukup untuk sedikitpun suplai udara di sana. Dadaku terasa sesak. Samar-samar terlihat cahaya lampu senter bergoyang kesana-kemari. Semakin lambat. Semakin redup.

“Willy” terdengar suara ibuku memanggilku perlahan.

“Willy. Bangun! Kita terdampar”

“Haahhhhh” aku terkejut lalu buru-buru bangun.

“Kita terdampar?”

“Iya”

“Dimana”

“Di Pulau Alor” jawab Agus sambil melirik kearah perempuan berlemak yang subuh tadi menghantam tubuhku dengan keras. Di wajahnya masih tersisa garis-garis kecantikan yang tampak jelas di bawah terpaan sinar matahari pagi itu.

“Kau suka” Tanya Agus kepadaku. Giginya yang agak kuning berbaris rapi, menandakan kalau dia sedang tersenyum.

“Tentu saja aku suka. Semalam kami bersentuhan. Sentuhannya begitu keras. Membuatku hampir mati".

“Hahahaha” sekali lagi Agus dengan bangga menunjukan barisan giginya yang agak kuning hasil fermentasi nasi putih kemarin sore. Diam-diam aku bersyukur masih bisa melihat sepupuku tertawa.

Komentar

Postingan Populer