permohonan yang dibatalkan
Satu menit yang lalu. Mungkin kurang. Kira-kira belasan atau puluhan detik sebelum paragraf pertama dari narasi ini ditulis pada selembar kertas lantas disalin ke halaman microsoft word, saya tengah berdoa dengan khusyuk diiringi suara rintik hujan pada atap berbahan asbes dan gemuruh guntur sambung-menyambung di kejauhan.
Pada
mulanya saya menyapa dengan sangat santun. Bapa yang Maha Mengetahui, Maha Memberi,
Maha Mengasihi. Saya menyapa dengan setengah suara, hampir seperti orang
berbisik. Setengah suara yang dalam imajinasi saya seolah menggema di sebuah
ruang hampa tanpa cahaya. Di sana ada yang mendengarkan gema dari suara yang
hampir seperti berbisik karena takut membuat penghuni ruangan sebelah terbangun.
Akibatnya bisa fatal. Doa saya bisa terhambat berjam-jam lamanya untuk kembali
digemakan dalam ruang hampa yang hampa segalanya kecuali gema doa setengah
suara dan Allah yang Maha Mendengar.
Hamba
mengerti bahwa Engkau ya Bappa, tidak membutuhkan sikap respek dari hamba, karena
Engkau agung, dan tidak memerlukan apapun dari hamba. Saya melanjutkan dengan ungkapan yang
sepenuhnya didasarkan pada kesadaran bahwa Allah di dalam diri-Nya sendiri
adalah mulia, agung, gagah, perkasa, dan segala yang baik ada padanya. Engkau
tidak memerlukan apapun dari hamba, hambalah yang butuh untuk selalu terhubung
dengan-Mu ya Bapa, hambalah yang butuh untuk menunjukan rasa hormat kepada Dikau
ya Bapa. Saya kembali mengucapkan deretan kata-kata yang didasarkan pada perasaan
butuh, seperti perasaan seorang anak yatim yang merindukan sosok seorang ayah sebagai
objek rasa kagum dan hormat.
Hamba
datang malam ini, bersyukur untuk kasih setia Bapa bagi kami. Terima kasih untuk
pemeliharaan Bapa bagi kami.
Kali ini saya menempatkan diri seperti imam yang menghubungkan umat dengan
Allah, meskipun saya tidak tahu pasti apakah setiap orang yang masuk dalam
kategori kata “kami” tadi memiliki rasa syukur seperti saya saat ini. Ampuni
kami dari dosa dan pelanggaran kami ya Bapa, oleh karena kasih setia-Mu. Kali
ini, saya dengan lancang memohon ampun untuk dosa orang lain tanpa seijin yang
bersangkutan, sehingga dengan demikian saya telah memohonkan pengampunan dosa
untuk orang yang mungkin saja tidak berdosa sama sekali. Sebuah kepedulian yang
ngawur sebenarnya. Bahkan, dalam hati kecil saya ada keraguan bercampur harapan.
Saya
berharap agar Allah mengampuni dosa setiap orang yang saya mohonkan pengampunan
dosanya sekaligus ragu, apakah pengampunan dosa dapat diwakilkan tanpa sepengetahuan
pendosa layak diampuni. Tapi ini adalah bagian struktural dari konsep doa yang
tersimpan di pikiran bawah sadar saya yang kalau dilewatkan, rasanya seperti makan oseng-oseng
kangkung tanpa penyedap rasa. Rasanya seperti ada yang kurang, seperti ada
ruang kosong yang butuh untuk diisi.
Bagaimanapun
juga, doanya baru saja dimulai, baru saja selesai prosesi penyucian diri lewat
sebaris kalimat dan saya yang merasa telah kudus tanpa noda dosa mulai memiliki
keberanian untuk mengklaim apa yang pernah disampaikan oleh Yesus Kristus bahwa
“setiap orang yang meminta akan menerima”. Saya dengan hati-hati berusaha meyakinkan
Allah bahwa saya tidak ada maksud untuk menodong-Nya dengan apa yang pernah
disampaikan oleh Yesus Kristus kepada pengikut-Nya. Kali ini saya semakin
kurang ajar tanpa saya sadari. Sebenarnya saya baru menyadari bahwa betapa
kurang ajarnya saya (ketika sedang menulis paragraf ini) karena mengira bahwa
Allah akan mudah tersinggung oleh kata-kata seorang manusia sehingga saya harus
berusaha meyakinkan-Nya bahwa saya tidak ada motif untuk menodong-Nya dengan ajaran
agung yang pernah disampaikan oleh Yesus Kristus.
Saya
melanjutkan doa pada bagian berikutnya setelah berusaha meyakinkan Allah agar
tidak tersinggung. Ya Bapa, hamba memohon belas kasihan-Mu. Kasihanilah
hamba, tolong hamba agar hidup menurut belas kasihmu. Selebihnya hamba memiliki
pergumulan finansial (red.). Berilah bagi hamba jalan keluar dari
pergumulan ini. Saya memohon tanpa malu-malu mengingat banyak tanggungan
keuangan yang harus saya tangani. Dan saya mengerti betul bahwa Allah mampu
menolong saya, maka ini adalah kesempatan untuk menggerakan Allah supaya
bangkit menolong saya. Saya berdoa dengan penuh kesungguhan, kerendahan hati, bercampur
kekhawatiran.
Beberapa
detik, belum sampai belasan detik. Sesaat sebelum saya menyampaikan rincian kebutuhan
keuangan dan kekhawatiran yang semakin dalam setiap detiknya, saya tanpa sadar mengoceh.
Ocehan yang terjadi di luar rencana. Pikiran dan mulut saya membelot melawan
saya. Rangkaian kata-kata yang keluar selanjutnya seperti orang membanting
setir. Ya Bapa, hamba bersyukur, bahwa Bapa telah menolong hamba setiap
hari, Bapa telah mencukupkan kebutuhan hamba setiap hari, sedikit demi sedikit.
Terima kasih Bapa. Bapa telah mendidik hamba seperti Bapa mendidik umat Israel
di padang belantara. Mulut yang membelot ini diam sejenak. Sementara pikiran
yang membelot dari gambaran tentang rincian kebutuhan keuangan mulai
memunculkan visualisasi keadaan umat Israel yang mengambil manna secukupnya
setiap pagi, menghabiskannya pada hari yang sama, lalu tidur dengan satu
keyakinan akan turunnya manna di pagi berikutnya.
Saya
tersentak, dalam hati. Masih dengan suara yang pelan, saya katakan, ya Bapa.
Ampunilah hamba. Ketakutan hamba telah melampaui iman hamba kepada-Mu. Ampuni
setiap orang dalam rumah ini yang telah terjebak dalam ketakutan hingga
melupakan iman terhadap-Mu. Biarlah malam ini, hamba-Mu ini tidur dengan satu
pengharapan akan melihat pertolongan-Mu besok pagi.
Kata
amin mengakhiri doa pendek yang dipanjatkan kala hujan gerimis dan langit bergemuruh.
Doa yang nyaris dilengkapi dengan sederetan rincian kebutuhan keuangan yang
mencapai jutaan rupiah seandainya tidak terjadi pembelotan dari pihak pikiran
dan mulut saya. Pembelotan yang menyebabkan narasi yang berisi 839 kata dan 4 angka
ini diberi judul “Permohonan yang dibatalkan”.
Wira
Anggara
Komentar
Posting Komentar