TAK PERNAH DIKIRIM
Kepada ibu
Di rumah
Ibu, ketika aku menulis surat ini, aku berada dalam keadaan baik-baik saja. Kuharap ibu dan semua saudara di desa juga demikian keadaanya.
SYALOM
Ibu, selama beberapa bulan di Surabaya, aku tak pernah berhenti mendoakan semua anggota keluarga kita agar selalu dilindungi oleh Tuhan. Kadang-kdang aku berdoa di kamar yang ditempati bertiga olehku, Agus, dan Piter. Kadang aku berdoa sambil berjalan menuju kampus yang letaknya sekitar satu kilometer dari tempat tinggalku sekarang.
Aku pergi ke gereja setiap hari minggu. Letaknya sekitar dua kilometer dari tempat tinggalku sekarang. Ruangannya mewah dan memiliki kipas angin modern, orang-orang di kota menyebutnya dengan AC. Di beberapa sudut ruangan bagian depan tepatnya di samping altar ada beberapa set alat pengeras suara. Mimbarnya sederhana. Tata cara ibadahnya berbeda dari yang dipakai di desa, di sini orang-orang seringkali mengeluarkan suara-suara aneh yang disebut sebagai bahasa roh.
Aktivitasku di kampus tidak terlalu menyenangkan. Teman-teman membujukku untuk pindah agama setelah berusaha meyakinkanku bahwa Yesus bukan Tuhan. Suatu ketika ada seorang teman yang melantunkan semacam nyanyian dalam bahasa arab tepat di depan wajahku. Aku tidak tahu persis lagu apa yang dia nyanyikan, namun dia membuatku tersinggung dengan menyanyikannya tepat di depan wajahku. Dalam pembicaraan sehari-hari di kampus, teman-teman menggunakan bahasa Jawa yang untuk saat ini belum aku pahami sama sekali. Pernah ada dosen yang bercanda menggunakan bahasa Jawa. Seisi kelas tertawa, tapi aku hanya diam karena tidak mengerti apa yang mereka tertawakan.
Aku juga tidak lulus mata pelajaran Bahasa Inggris krena tidak ikut ujian. Waktu itu jadwalnya dimajukan satu hari. Tidak ada perubahan jadwal di papan informasi, jadi aku langsung pulang setelah ujian terkahir hari itu. Aku sudah di rumah ketika perubahan jadwal diinformasikan lewat BBM, sebuah alat canggih yang digunakan untuk berkirim surat pendek. Informasi itu tidak sampai kepadaku karena aku tidak punya BBM. Lagipula HPku hanya sebuah HP lama dan tidak secanggih milik teman-temanku.
Aku pernah bekerja sebagai kuli bangunan dengan bayaran lima puluh ribu per hari, tetapi hal itu membuatku malas ke kampus, jadi aku memilih untuk berhenti bekerja sebagai kuli dan bertahan hidup menggunakan biaya hidup dari pemerintah untuk mahasiswa miskin.
Ada cukup banyak cerita yang ingin aku tuliskan untuk ibu, tapi kurasa ada baiknya kutuliskan lagi dalam surat berikutnya. Di akhir surat ini aku titip salam untuk ayah dan semua sanak-saudara di desa, semoga semuanya selalu dalam lindungan Tuhan.
Surabaya, 28 Maret 2014
Dari Willy
Komentar
Posting Komentar