SAYA
Ada bahagia yang tidak sempurna dan bersifat sangat sementara pagi ini. Gaji cair. Apa yang dinantikan sejak tanggal dua puluh enam Oktober itu akhirnya tiba. Tiba untuk segera pergi lagi. Dalam sehari ada lonjakan statistik dalam portofolio finansial saya. Lonjakan tertinggi sebelum fajar dan menurun tajam sebelum tengah hari. Sebuah kesementaraan yang dinanti dengan penuh kewaspadaan dan penguasaan diri dari keinginan membeli rokok dan komoditas lain yang bukan primer termasuk bensin. Yang primer di sini adalah melunasi hutang. Bensin jadi yang sekunder kali ini meski inflasi dikabarkan masih beberapa bulan lagi. Entah apa yang akan terjadi dengan saya jika inflasi kembali menjejakkan kakinya di bangsa ini seperti yang pernah terjadi di masa pemerintahan pak Harto.
Gaji saya tiga juta rupiah, selisih satu jutaan dari UMR
kota Surabaya. Tiga juta rupiah dipotong iuran BPJS TK, menyisakan dua juta sembilan
ratus empat puluh ribu rupiah yang dicairkan ke rekening BCA milik saya. Jika ada
yang bertanya, mengapa bukan BRI? Saya akan menjawab bahwa BCA adalah pilihan Yayasan
tempat saya melayani delapan jam dalam sehari (kadang dipotong beberapa menit keterlambatan
karena kebiasaan), lima hari dalam seminggu kalau tidak ijin sakit atau motor
mogok.
Kata pak Han, uang sejumlah tiga juta rupiah mestinya cukup
untuk orang seperti saya. Belum menikah, sedikit makan, dan telatan. Tapi ada premis
yang terlewatkan atau mungkin secara sengaja diabaikan oleh pak Han. Saya
tidaklah tunggal. Yang tunggal adalah tubuh saya. Sesuatu yang dapat diraba,
dibaui, juga dijilat (tapi tidak untuk dicelupin). Di balik saya yang tunggal,
ada saya yang tidak tunggal. Saya yang tidak tunggal itu adalah saya sebagai
makhluk sosial. Saya sebagai makhluk sosial adalah saya yang luas, melampaui saya
yang dapat diraba juga difoto untuk menghasilkan satu karya seni dua dimensi.
Saya adalah orang selain saya. Saya adalah warga desa
Sera _sebuah desa yang terbelakang dengan perkembangan demokrasi yang buruk. Di depannya menghampar lautan tiada bertepi yang merilekskan sekaligus
mengisolasi masyarakat penghuni pulau karang yang puluhan tahun lalu terjangkit
wabah mematikan, membunuh ratusan penghuninya dalam kebisuan, tanpa tenaga
medis, tanpa babinsa, atau sesuatu yang lain yang mewakili pemerintah Indonesia.
Mungkin karena letaknya di perbatasan Indonesia-Australia, mungkin karena ia
terisolasi, atau jangan-jangan karena masyarakat di sana hanya sebatas angka yang
tercatat di buku sensus penduduk yang diadakan satu kali setiap lima tahun_. Saya adalah bagian dari gereja yang menerima
persepuluhan, dan saya adalah dua orang muda-mudi yang memanggil ibu saya dengan panggilan mama, yang sedang menempuh
pendidikan di fakultas MIPA, Universitas Negeri Pattimura Ambon.
Dua juta sembilan ratus empat puluh ribu rupiah, sebaris
angka yang kadang ditulis dalam huruf. Suatu jumlah yang tidak sedikit di Jogja
namun tidak banyak di Surabaya, yang menurut pak Han cukup bagi saya. Cukup
sekaligus tidak cukup bagi saya.
Rafa'El Loiss
Komentar
Posting Komentar