Sisi Lemah
Siapa di dunia ini yang bisa begitu saja menerima sisi lemah dalam dirinya. Kenyataan bahwa banyak produk kecantikan yang diproduksi dalam jumlah besar menjadi gambaran awal bagi kita tentang adanya upaya manusia untuk menutupi sisi lemahnya. Ketidaksiapan dengan penuaan yang terjadi secara alami diatasi dengan penggunaan produk kosmetik yang membuat penggunanya tampak jauh lebih muda.
Masih begitu banyak contoh tentang bagaimana setiap orang tidak bisa menerima begitu saja sisi lemah dalam diri atau kehidupannya. Saya tidak bisa menuliskan satu demi satu contohnya dalam artikel ini, tetapi saudara dapat menemukannya di sekitar saudara. Pergumulan dan penolakan manusia terhadap sisi lemah dalam dirinya tidak lantas menghilangkannya. Sebaliknya hal itu seolah-olah ditakdirkan untuk menjadi bagian dari dirinya seumur hidup.
Apa yang dialami oleh setiap orang saat ini tentang sisi lemahnya pernah juga dialami oleh rasu Paulus dan bangsa Israel. Rasul Paulus harus bergumul sepanjang waktu dengan utusan iblis yang ada di dalam dirinya hingga ia memohon kepada Tuhan agar mengambil utusan iblis itu dari dirinya, bangsa Israel mengalami hal yang kurang lebih sama konsepnya. Generasi kesekian dari generasi Yosua yang tinggal di Kanaan diijinkan Tuhan untuk hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa asing yang tidak mengenal Tuhan, dan tentu itu adalah sisi lemah bagi bangsa Israel karena setiap orang yang membaca alkitab pasti tahu bahwa sepanjang sejarah Israel dalam Alkitab, mereka harus berpolemik dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan ini. Bukankah hal itu merupakan satu kondisi yang cukup merepotkan?
Pertanyaan besar yang sering muncul berkaitan dengan kondisi seperti ini adalah, mengapa Tuhan mengijinkan ada sisi lemah dalam diri atau kehidupan manusia? Bukankah akan lebih baik jika semuanya sempurna? Manusia tidak perlu saling menyakiti atau berhadapan dengan resiko-resiko yang tidak diinginkan.
Rafa’El Loiss
Komentar
Posting Komentar