Kunjungan Rumah (kontekstual)
Selalu ada masa depan. Antara kau dan mereka tidak ada yang punya cukup alasan untuk bersikap angkuh, seolah kau tak bisa tanpa mereka dan juga sebaliknya.
Kunjungan rumah bukan soal kepedulian, juga bukan bentuk
pemecahan masalah. Kunjungan rumah menunjukan bahwa sebenarnya antara kau dan
mereka semakin berjarak, dan karenanya wajib untuk saling curiga.
Semua tahu tentang ketidakadilan yang terjadi di sini.
Ketidakadilan yang beriringan dengan ketidakpastian. Tapi rupanya setiap orang
hanya sanggup memperjuangkan keadilan bagi dirinya sendiri. Beberapa memilih
pergi, sementara yang lain memilih bisu tepat di saat angkatan yang masih baru
ini goyah di depan ketidakadilan.
Pagi ini kak Ochi bilang kalau ada rencana untuk melakukan
kunjungan rumah. Tentu saja berita ini mendebarkan dan membuat panik dalam tempo
yang seketika. Seketika sekaligus singkat. Singkat karena sebuah fakta mengguggat.
Yang bertamu wajib meminta restu. Dan tuan rumah berhak untuk membuka atau
menutup pintu.
Kunjungan rumah. Karena mengandung sikap saling curiga, maka
wajar bila tuan rumah menaruh curiga pada yang bertamu. Wajar bila karena
kecurigaannya ia menutup pintu dan jendela, bahkan gerbang.
Akhirnya, kunjungan rumah. Hanyalah sebentuk konfrontasi.
Antara dua pihak yang saling curiga. Dan munafik bila dilakukan atas nama
kemanusiaan atau persaudaraan. Karena bicara soal persaudaraan dan kemanusiaan
tak harus melirik rumahnya, lirik saja kotak bekalnya. Mungkin kosong. Dan perlu
diisi. Mungkin kosong. Karena ketidakmampuan untuk memastikannya tetap terisi. Ketidakmampuan yang tersistem, kondisi yang tidak muncul secara alami tetapi dikondisikan.
Rafa'El Loiss
Komentar
Posting Komentar