Terusir

Lampau itu. Ketika senja dan mama sama-sama sayunya, kudengar suara bapak dalam bicaranya yang lugas. “Biarkan dia pergi. Dia laki-laki”. Sejak saat itu aku jadi anak yang terusir, bukan karena aku seorang anak yang durhaka, tapi karena aku seorang anak laki-laki. Dalam pergiku setelah itu, selalu ada rindu yang membayangi. Rindu itu menjadi lebih tegas seiring waktu. Dan pada sekali dua kali senja, terbayang kata-kata yang pernah diucapkan oleh wanita tua yang kupanggil mama.

“Jangan pergi terlalu jauh nak. Kau nanti tak kembali”. Dan senja ini aku menggugat. Aku memang anak yang terusir, tapi bukan anak yang tak kembali. Rindu itu akan membawaku pulang. Ingatan pada kata-kata mama mengandung horor. Ia bisa jadi ekspresi rasa sayang sekaligus kutukan. Ia bisa jadi adalah kata-kata yang memanggilku untuk pulang sekaligus sebuah silogisme bahwa aku tak akan pulang karena telah pergi terlalu jauh. Jika aku bilang bahwa rindu akan membawaku pulang, itu karena dua hal, pertama karena aku takut tak bisa pulang, kedua karena aku tak punya apapun yang kuharapkan bisa membawaku pulang selain rindu yang kian menebal setiap hari. Rindu pada mama dan senja, pada bapak dan laut, pada kakek dan pusaranya, pada tanah makam dan rimbun daun kelapa.

Rafa’El Loiss

Komentar

Postingan Populer