MERDEKA
Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida
Potongan pusi karya Chairil Anwar
Chairil, seorang yang ingin bebas. Ia ingin bebas dari segala termasuk Ida. Ia yang katanya akan terus menerjang meski peluru menembus kulit mungkin sedikit angkuh sekaligus sedikit lupa diri. Saya rasa, saya tidak berlebihan dalam hal ini. Saya kagum pada Chairil, sebuah identitas yang mewakili segudang ide tentang kebebasan. Rupanya Chairil begitu menggandrungi kebebasan yang membuatnya meradang menerjang tanpa peduli pada rasa sakit sebagaimana disampaikannya pada dunia lewat pusi Aku.
Chairil menginspirasi saya untuk mengikuti jalan kebebasan, namun pada saat yang sama juga menginspirasi saya untuk membantah cita-citanya yang terlampau lupa diri. Ia yang bilang bahwa ingin merdeka dari Ida, adalah seorang bohemian yang suka main perempuan, saya tahu itu dari sebuah majalah tempo edisi khusus Chairil Anwar. Ia mungkin bebas dari Ida, tapi tidak bebas dari banyak Ida yang lain yang di kemudian hari menginspirasinya untuk menjadikan seruan bung ayo bung sebagai seruan penyemangat bagi revolusi kemerdekaan Indonesia. Sebuah seruan yang tidak asing di wilayah pelacuran pasar Senen sama seperti kalimat mas, ndak masuk ta di rel kereta sekitar Stasiun Wonokromo Surabaya.
Rupanya Chairil tidak sepenuhnya bebas. Ia tidak bebas dari segala. Masih ada yang membelenggunya. Dan kritik saya terhadap Chairil punya pengecualian. Kata mau-nya mengandung dua arti sekaligus. Pertama ia menginginkan sesuatu, kedua kemauan adalah kemauan. Chairil tepat ketika mengatakan aku mau, menyiratkan sesuatu yang belum jadi, dan masih sebatas keinginan. Sekaligus ia naif dengan mengatakan aku mau pada kebebasan.
Tidak ada yang bebas, kata Vic. Gheeto T. Wicaksono. Seorang pendeta yang baik hati penganut ajaran Jhon Calvin. Kata bebas itu sendiri terikat pada susunan huruf yang diawali oleh hruf b diikuti e, kemudian b dan diakhiri dengan huruf s setelah huruf a. Jika urutannya diacak, kita akan kehilangan kata yang mewakili ide bebas itu. Jadi bahkan kata bebas sendiri adalah sebuah kata yang sangat tidak bebas, ia terikat pada urutan huruf tertentu. Dalam kesempatan yang lain pendeta yang baik hati itu menulis dalam bukunya yang berjudul Total Football for Life bahwa bahkan free kick atau tendangan bebas dalam sepak bola adalah sebuah tendangan yang sangat tidak bebas sekalipun disebut dengan tendangan bebas. Tendangan bebas tidak boleh dilakukan secara sembarangan, tanpa memperhitungkan arah, tekanan angin dan seberapa besar tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan daya dorong kearah yang dituju oleh bola.
Kebebasan mengandung kontradiksi. Ia bebas sekaligus terbatas. Chairil bisa bebas dari Ida, namun tidak dari segala. Ia mungkin bisa bebas dari segala tapi tidak dari Ida. Bahkan katakanlah ia bebas dari segala / merdeka / juga dari Ida namun kebebasan itu sendiri mengikatnya untuk tidak terikat pada Ida atau pada yang lain. Sederhananya, Chairil dan siapapun yang mau bebas dari segala mesti mengikat dirinya pada sesuatu yang disebut kebebasan, senantiasa waspada agar tidak terlepas dari apa yang disebutnya sebagai kebebasan, sebuah kehati-hatian yang mengikat sekaligus bebas.
Rafa’El
Loiss
Komentar
Posting Komentar