SENDIRI
"Kita tidaklah sendiri". Tulis Rendra dalam Sajak seorang tua kepada istrinya. Ketahanan menderita dinilai sebagai suatu kehormatan seorang manusia. "Kita tidaklah istimewa". Narasi ini muncul dalam bait yang berbeda dari sajak yang sama. Saya terkesima ketika membaca tulisan itu. Bukankah saya seringkali tergoda untuk merasa paling menderita atau setidaknya menilai penderitaan saya sebagai pengalaman yang outentik, berbeda dari pengalaman menderita yang dialami orang selain saya.
Rupanya saya keliru. Pengalaman menderita yang saya alami
setidak-tidaknya memiliki esensi yang sama dengan pengalaman menderita yang
dialami oleh orang-orang selain saya. Keterpurukan, kegagalan, kemandekkan,
kehilangan, dll yang saya kategorikan sebagai pengalaman menderita adalah
pengalaman yang juga dialami oleh orang-orang selain saya. Hal ini membuat
pengalaman saya akan penderitaan tidaklah istimewa sama sekali. Tentu saja
kematian orang yang dicintai tidak dapat disamakan dengan pengalaman dirampok.
Tetapi keduanya bisa sama-sama menghadirkan apa yang disebut sebagai
penderitaan.
Saya tidaklah istimewa sekaligus tidak sendiri, apalagi
sendiri dalam sebuah keistimewaan atau sendiri dalam penderitaan. Saya tidak
bermaksud menggampangkan penderitaan seseorang dengan mengatakan penderitaan
sebagai pengalaman kolektif. Tentu saja daya tahan setiap orang memiliki
perbedaan di hadapan pengalaman akan penderitaan. Sebagian bisa dengan enteng
mengelus dada dan sebagian lainnya bisa dengan keras membentur-benturkan kepala
ke dinding beton. Namun, hal itu tidak membuatnya sebagai satu-satunya orang
yang menderita di muka bumi.
Kita tidaklah sendiri dan istimewa dalam pengalaman kita
akan penderitaan.
Rafa’El Loiss
Komentar
Posting Komentar