HANGAT

Aku menuliskannya selagi hangat, sehangat partikel yang dilepaskan oleh matahari pagi di tanggal 13 Februari 2023. Waktu menunjukkan pukul 09:41 WIB saat aku menulis baris ke-dua dari narasi ini. Sekitar 15 menit yang lalu aku diajak bicara oleh kepala sekolah SMA tempatku bekerja. Beliau menyampaikan dengan sangat hati-hati bahwa bendahara BPOPP perlu regenerasi dan karenanya tanggung jawabku sebagai bendahara akan tergantikan oleh orang lain, semua perlu merasakan tanggung jawab yang sama, itu poin pembicaraan yang berhasil kutangkap. Tapi kehati-hatiannya saat bicara tadi mengandung sesuatu yang lain. Aku bisa merasakan seolah ada gejolak yang berusaha diredam lewat kata-kata yang begitu tenang, namun terkesan menegangkan.

Ah. Perempuan itu sudah kuanggap ibuku sendiri. Aku ingat beberapa minggu yang lalu beliau berpesan padaku bahwa jika suatu saat nanti kami berpisah, tidak ada masalah apapun antara kami. Perpisahan ini menyangkut pekerjaan, beliau seolah ingin mengingatkanku agar tidak salah paham jika masa kontrakku tidak lagi diperpanjang oleh pihak yayasan, katanya “kita sama-sama kerja ikut orang”.

Kali ini adalah ketiga kalinya perempuan yang sudah hampir pensiun itu seolah ingin menyampaikan secara tidak langsung perihal niat baik yayasan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja karyawan yang sering datang terlambat ke sekolah. Karyawan itu adalah aku. Benar bahwa aku adalah karyawan yang sangat sering terlambat datang ke sekolah dan ketidakdisiplinan seperti ini tidak baik bagi upaya perbaikan mutu sekolah meskipun aku selalu setia memanfaatkan jam mengajarku dengan meringkus diriku berjam-jam di kelas sejarah, PKn dan informatika.

Perbaikan mutu. Gemanya sudah kemana-mana, isunya adalah bahwa sekolah bisa mencapai kesejahteraan dalam kurun waktu sekitar lima tahun jika upaya perbaikan mutu berjalan sesuai rencana. Atas nama perbaikan mutu inilah aku dilaporkan ke direktur pelaksana oleh seorang rekan kerja ketika karena kelalaianku, dua belas butir soal ujian Penilaian Akhir Tahun (PAT) untuk kelas dua belas beberapa tahun lalu tidak muncul di naskah soal. Direktur pelaksana mengingatkanku bahwa itu buruk bagi perbaikan mutu dan karenanya aku diberikan surat peringatan ke-2 oleh kepala sekolah.

Kasusku bukan satu-satunya kasus. Sebenarnya ada kasus lain dengan pelakunya sendiri. Seorang guru yang merangkap tugas sebagai pengajar sekaligus sebagai penanggungjawab pengembangan yayasan yang hadir dengan ide perbaikan mutunya yang menjanjikan kejayaan bagi sekolah di tahun kelima proyeknya ternyata lebih dari sekali melakukan tindakan yang berpotensi merusak mutu sekolah. Ini seperti upaya bunuh diri dua kali.

Bunuh diri pertama yang masih menyisakan saksi dari berbagai pihak adalah ketika pelaksanaan Penilaian Tengah Semester (PTS) sekitar satu tahun yang lalu. Siswa kelas sepuluh IPS diberitahukan bahwa nilai PTS mereka akan diambil dari nilai tugas. Semua guru yang pernah terlibat dalam kegiatan PTS tahu betapa pentingnya PTS bagi pihak sekolah untuk memaksa siswa melunaskan tunggakan pembayaran SPP, di sisi lain siswa menyikapi PTS secara serius karena melihatnya sebagai satu bentuk penilaian yang lebih serius dari tugas atau latihan soal di kelas.

PTS karena perannya yang penting itu hanya bisa berjalan dengan kepanitiaan yang dibentuk dan ada laporan yang diserahkan di akhir pelaksanaannya, seketika menjadi sebuah kegiatan yang hanya bersifat formalitas bagi kelas sepuluh IPS yang tidak perlu belajar sebelum ujian karena telah ada kesepakatan bahwa nilai PTS akan diambil dari nilai tugas yang secara struktural lebih rendah dan persiapannya tidak lebih serius dan berbiaya daripada PTS.

Bunuh diri yang ke-dua, terjadi pada pelaksanaan kegiatan Penilaian Akhir Semester Ganjil. Banyak saksi dan bukti yang masih tersisa dari aksi bunuh diri yang terakhir ini. Panitia pelaksana PAS menemukan bahwa perangkat soal yang akan diujikan memiliki kesamaan konten antara setiap jenjang kelas. Hal ini buruk karena soal yang sama persis pada setiap jenjang dapat memicu kecurangan dalam ujian sekaligus menunjukkan bahwa pembuat perangkat soal tidak professional atau tidak memiliki kompetensi pada bidang yang diujikan.

Peringatan yang dilayangkan secara pribadi oleh panitia dengan sepengetahuan wakasek kurikulum menuai janji manis bahwa perangkat soalnya akan diubah. Saya sebagai ketua panitia mewanti-wanti bahwa kemungkinan soal yang diujikan tidak berubah. Sangat mungkin untuk menemukan soal yang sama antar jenjang kelas pada saat ujian. Apa lacur, pada saat pelaksanaan ujian, panitia menemukan ada delapan belas butir soal yang sama persis pada ujian mata pelajaran geografi kelas sepuluh dan kelas dua belas.

Bunuh diri ke-dua yang dilakukannya menuai surat peringatan, tetapi yang pertama terkubur tanpa bukti dalam bungkamnya para siswa dan mantan wali kelas sepuluh IPS yang pernah keceplosan. Bungkamnya mereka yang terlibat dan tahu tidak menyirnakan fakta bahwa penjaja ide perbaikan mutu di sekolah adalah orang yang sama bahayanya dengan diriku, melakukan lebih dari satu kesalahan yang punya dampak fatal bagi perbaikan mutu sekolah.

Akhirnya jika keadilan tidak tebang pilih, biarlah setiap pelaku mendapati dirinya dihukum sesuai pelanggarannya. Aku lega karena menyadari bahwa pada akhirnya akan terusir dari tempat aku menulis narasi ini. Karena tanpa terusir, aku bukanlah orang yang punya pilihan untuk pergi atau tinggal, tepat seperti isu yang menyebar di kalangan guru SMA tentang pandangan badan pengurus yayasan bahwa para pengajar yang masih berusia muda seperti saya tidak lebih daripada orang-orang muda yang karena terdampak COVID-19 tidak akan berani melepaskan kesempatan kerja di sekolah ini sekalipun bekerja di bawah tekanan beban kerja yang berlebihan.


Rafa’El Loiss

Komentar

Postingan Populer