Manuver

Pilihan selalu mengandung resiko. Aku benar-benar memaknainya ketika mengajukan surat pengunduran diriku kepada ibu M, Direktur Pelaksana di tempatku bekerja. “Ini tidak benar” katanya. “Dimana-mana, orang mengajukan pengunduran diri tiga bulan sebelumnya”, lanjutnya. Aku diam sambil menjaga posturku tetap tegap. Namun, ucapan ibu M membawa ingatanku pada AC, seorang teman pengajar mata pelajaran Bahasa Inggris yang sekitar tiga tahun lalu tiba-tiba digantikan posisinya oleh C, seorang karyawan baru.

AC pergi tanpa sempat berpamitan, dan kepergiannya itu menyisakan berbagai spekulasi. AC dipecat, atau keluar dengan sendirinya. AC cukup menjaga rahasia dan kami yang terkesan tak mau tahu secara terang-terangan bersikap sok tahu, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hadir setelah jawaban. Ingatanku tentang AC memang menguatkan. Dengan mengingat kepergiannya yang begitu tiba-tiba, aku bisa menyanggah argumen ibu M di dalam pikiran dan karenanya aku bisa tetap kuat untuk berdiri tegap di dalam ruangan berukuran sekitar tiga kali empat meter itu.

AC bukan satu-satunya. Pak S yang dihubungi di hari terakhir masuk kerja menjelang libur akhir tahun ajaran adalah contoh lain. Jangka waktunya singkat. Standar tiga bulan diabaikan di sana. Tapi pak S selain seorang human resource development (HRD) juga adalah orang yang mudah legowo, ia bisa mengabaikan profesionalisme selama hak-hak finansialnya sebagai seorang karyawan yang di-PHK bisa dipenuhi. Terakhir kali ketika dihubungi oleh seorang redaktur dari salah satu media massa, pak S bilang bahwa dia sudah selesai dengan yayasan.

Ibu M menekankan dalam pembicaraan lebih lanjut tentang profesionalisme dalam bekerja. Aku setuju bahwa setiap orang perlu untuk bersikap professional. Tetapi professional tidak berdiri sendiri, ia selalu terkait dengan berbagai faktor lain yang diabaikan oleh ibu M dan kawanan pengurusnya di yayasan. Dua tahun lalu, ibu M bilang bahwa dirinya sedang mengupayakan perbaikan gaji guru, hal ini mungkin didasari oleh kesadarannya bahwa gaji guru di tempat ini buruk, jika tidak begitu tentu dirinya akan lebih memilih kata “peningkatan” daripada “perbaikan”. Aku, ST dan Y mendengarnya langsung pagi itu, di ruang kepala sekolah. Upaya yang mungkin gagal bagi sebagian orang namun tidak bagi yang lainnya sebagaimana diinformasikan oleh N seorang teman yang melakukan pengunduran diri beberapa waktu lalu karena diberi beban kerja tambahan tanpa kenaikan upah.

Pagi itu, ibu M turut hadir untuk menjawab gugatan Y tentang ekstara kurikuler (ekskul) ekonomi dan kimia yang ditiadakan sementara english conversation program (ECP) terus berjalan. Y menuntut yayasan untuk bersikap profesional dengan cara menetapkan kebijakan yang tidak tebang pilih. Bagi Y ekskul kimia dan ekonomi maupun ECP adalah kegiatan yang tidak merugikan yayasan. Dana untuk ECP diambil langsung dari iuran peserta, sementara ekskul kimia dan ekonomi didanai dengan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Yayasan tidak kehilangan uangnya jika ekskul kimia dan ekonomi tetap berjalan. Tapi, mungkin ada pertimbangan lain seperti alokasi dana yang dialihkan untuk keperluan lain dan larangan ekskul di masa pandemik.

Larangan ekskul oleh pemerintah waktu itu entah mengapa diterapkan separuh. Ekskul ekonomi dan kimia ditiadakan dan ECP terus berjalan. Mungkin pihak BP menilai ECP bukan sebagai ekskul sekalipun diadakan sebagai kegiatan ekstra. Memang kejelian dan sikap professional dibutuhkan dalam membuat kebijakan. Ketidakjelian bisa melahirkan gagal tafsir terhadap aturan pemerintah dan karenanya melahirkan kebijakan yang tebang pilih sebagai cerminan sikap kurang professional.

Siang itu, aku sebagai saksi mata dari hampir semua manuver para pembuat kebijakan diminta untuk bersikap professional. Dalam situasi seperti itu aku berkaca untuk yayasan yang mungkin tak sempat berkaca. Tentang profesionalisme dan kebenaran aku berkaca untuk yayasan.

 

Rafa’El Loiss

Komentar

Postingan Populer