Eksploitasi Harapan
Eksploitasi harapan. Dua kata ini muncul ketika saya mengorek informasi dari ChatGPT tentang penyebab munculnya perilaku arogan dari pemimpin atau kepala divisi pada perusahaan yang punya gengsi di mata tenaga kerja. Muncul beberapa poin penyebab, ada yang positif, juga negatif. Namun, saya memilih poin ini untuk dibedah karena alasan yang berikut ini
Eksploitasi harapan bukan sekedar isu pekerjaan yang
melibatkan pemberi kerja dengan tenaga kerja, namun lebih luas mampu
menjelaskan kerumitan relasi antar manusia, control terhadap individu atau
kelompok, dan yang paling menyedihkan menurut saya adalah banyak orang yang
tanpa sadar menjadi korban eksploitasi harapan. Jadi, mari kita mulai dengan arti
atau definisi dari eksploitasi harapan
Eksploitasi harapan dapat dipahami sebagai praktik manipulasi
dimana satu pihak memanfaatkan impian, harapan, atau kebutuhan pihak lain akan
masa depan yang lebih baik, guna mengeruk keuntungan berupa tenaga, waktu,
sumber daya, atau loyalitas secara sepihak di masa kini. Bayangkan Anda diinjak-injak
atau dimanfaatkan habis-habisan, sementara Anda dengan tabah menjalani peran
sebagai orang yang dimanfaatan dan diinjak-injak dengan ikhlas karena Anda
punya punya harapan akan masa depan yang berkaitan dengan pelaku atau tempat
Anda mengalaminya.
Jadi, saya kira eksploitasi harapan penting untuk dibahas. Setelah
mendefinisikannya secara singkat, saya ingin menunjukkan kepada Anda, bagimana
eksploitasi harapan dipraktekan di tempat kerja
Pertama. Melalui sistem kontrak dan honorarium yang
berkepanjangan. Pada bagian ini, Anda mungkin akan dibayar jauh di bawah
standar kelayakan kerja dengan iming-iming pengangkatan status menjadi pegawai
tetap di masa depan atau promosi jabatan. Praktik ini sangat lazim ditemukan di
sektor pelayanan publik atau institusi pendidikan, dimana kata kunci “pengabdian”
sering dipakai sebagai tameng untuk menormalisasikan kompensasi dan tuntutan
kerja yang “tidak manusiawi”
Kedua. Melalu Kompensasi berupa “exposure” atau portofolio. Anda
akan lebih mudah menemukan praktik seperti ini jika bekerja di bidang
kepenulisan, riset, dan industri kreatif. Anda akan diminta menyumbangkan artikel,
karya, atau tenaga dengan janji visibilitas, relasi, atau “jam terbang” yang didapat
akan membuka pintu menuju pekerjaan yang benar-benar dibayar nanti.
Ketiga. Melalui budaya kerja ekstra (hustle culture)
berbalut janji promosi. Anda tentu tidak asing lagi dengan rumor tentang karyawan
dengan beban tugas di luar job deksripsion, entah karena menggantikan
tugas atasan, atau tugas-tugas tambahan lain yang seharunya dikerjakan oleh
karyawan dengan kompetensi yang linier namun tidak tersedia karena efisiensi
anggaran yang berpengaruh pada keputusan perusahaan untuk tidak merekrut
karyawan baru alih-alih melimpahkan tugas tertentu pada karyawan yang sudah
ada.
Terakhir. Masa percobaan tanpa ujung. Pemberi kerja
memperkerjakan tenaga kerja dengan status percobaan atau training yang
minim fasilitas. Alih-alih melakukan pembinaan karyawan demi mempersiapkannya
menjadi karyawan tetap, perusahaan tidak memutuskan hubungan kerja pada saat
karyawan seharusnya memasuki tahapan sebagai karyawan tetap dengan alasan
kualifikasi yang tidak terpenuhi, lantas merekrut karyawan baru untuk mengulang
pola yang sama.
Saya risau dengan kenyataan bahwa eksploitasi harapan terus
ada hingga hari ini. dipraktikan oleh pemberi kerja, dan mengorbankan tenaga kerja.
Hal ini tidak akan pernah berakhir, dan terus menjadi pola interaksi antara pemberi
kerja dengan tenaga kerja di berbagai lapangan pekerjaan (tidak semua)
mengingat kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan semakin ketat seiring waktu. Namun,
kesadaran akan adanya praktik eksploitasi harapan perlu dibangun. Setidaknya Anda
lebih siap berhadapan dengannya jika tidak mampu menghindar.
_
Catatan: Pada kesempatan yang lain, saya akan menulis tentang eksploitasi harapan dalam hubungan romansa.
Komentar
Posting Komentar