Rekonsiliasi = Rekonstruksi ?
Dalam artikel yang berjudul, KONFLIK, SUMBU PENDEK, JAGA JARAK, penulis menyajikan sebuah konflik yang berakhir dengan keputusan untuk menjaga jarak dari orang-orang sumbu pendek. Artikel yang ditulis beberapa hari sebelum sebuah rekonsiliasi menyikapi konflik tersebut akhirnya dilaksanakan di ruangan atasan kami.
Beberapa
hari setelah penulis mengajukan permasalahan tersebut kepada atasan agar segera
diselesaikan karena penulis merasa tidak cukup mampu untuk menyelesaikan
sendiri, sementara di sisi lain, pihak seberang menutup komunikasi, upaya
penulis akhirnya membuahkan hasil, dan rekonsiliasi akhirnya berjalan dengan
teduh dan tegang. Dari berbagai sisi setiap orang berupaya untuk memperbaiki
situasi dan berakhir dengan menyampaikan keresahan setiap yang kurang lebih
sama kecuali penulis sendiri yang lebih memilih diam dan mengamati.
Sebuah
kesalahpahaman antara rekan-rekan senior dengan pimpinan kami merupakan pemicu
utama bagi konflik yang terjadi. Ketika permohonan ijin yang diajukan oleh dua
orang rekan senior untuk bekerja dari rumah ditanggapi dengan sangat singkat
dinilai sebagai bentuk kecurigaan atas alasan yang mendasari permohonan ijin
mereka, pada saat itulah reakan-rekan senior mulai meraba-raba, apakah ada
orang yang berusaha mempengaruhi pimpinan dengan informasi yang keliru tentang
mereka sehingga cara pimpinan merespon permohonan ijin mereka pagi ini begitu
mencurigakan.
Seperti
biasa, pimpinan kami mulai angkat bicara, menjelaskan secara rinci latar
situasi yang terjadi pada pagi hari yang sibuk, hari dimana konflik tersebut
diawali. Pimpinan yang sibuk dengan agenda yang padat dan sumber daya manusia
yang kurang memadai memaksa pimpinan kami untuk merespon secara singkat setiap
pesan masuk di WhatsApp beliau.
Sebuah
upaya yang baik, yang kemudian disalahpahami. Kesalahpahaman tersebut kemudian
bisa selesai di dalam ruang rekonsiliasi pada saat itu juga. Tetapi bagaimana
dengan isi pesan yang bernada kurang enak dari salah satu rekan senior kepada
penulis? Kami pada akhirnya sepakat bahwa hal seperti itu hanyalah candaan,
meskipun berdampak konflik satu dua atau tiga hari.
Kami
sepakat bahwa ada sebuah kesalahpahaman dari berbagai pihak, dan rekonsiliasi
atas konflik tersebut berakhir dengan pembahasan tentang kebijakan perusahaan
yang dirasa merupakan biang keladi dari setiap kesalahpahaman yang terjadi.
Jadi,
setelah memahami bahwa konflik tersebut berangkat dari sebuah kesalahpahaman
dan kami sepakat untuk menganggap apa yang telah terjadi sebagai sebuah
candaan, apakah keputusan yang kurang bijak dalam artikel sebelum ini perlu
direkonstruksi? Penulis berpikir bahwa tidak ada yang perlu
direkonstruksi, hanya perlu ditafsirkan
dengan tepat.
Perihal
keputusan untuk menjaga jarak, bukan soal tidak saling menyapa dan bercanda
ria, tetapi soal tidak bisa lagi terlibat dalam rencana-rencana besar yang
serius dengan resiko tinggi.
Kang Goeroe
Komentar
Posting Komentar